Talempong(atau dikenal sebagai Cak Lempong di Malaysia) adalah sebuah alat musik pukul tradisional khas suku Minangkabau. Bentuknya hampir sama dengan instrumen bonang dalam perangkat gamelan. Talempong dapat terbuat dari kuningan, tetapi ada pula yang terbuat dari kayu dan batu. Saat ini talempong dari jenis kuningan lebih banyak digunakan.
Saatini talempong dari jenis kuningan lebih banyak digunakan. Talempong berbentuk lingkaran dengan diameter 15 sampai 17,5 sentimeter, pada bagian bawahnya berlobang sedangkan pada bagian atasnya terdapat bundaran yang menonjol berdiameter lima sentimeter sebagai tempat untuk dipukul. Talempong memiliki nada yang berbeda-beda.
Caramemainkan alat musik Talempong ini adalah dengan memukulnya menggunakan sebuah alat pukul yang terbuat dari kayu atau bisa juga disebut stik. Dalam memainkannya ada beberapa teknik yaitu : Teknik tradisional (interlocking) pemain Talempong dengan teknik ini biasanya ada 3 orang, setiap pemain akan memainkan 2 Talempong.
Dibedakanmenjadi yang bernada dan yang tidak bernada. Alat musik pukul yang mempunyai nada, contoh : 6+ Alat Musik Pukul Bernada dan Tidak Bernada Lengkap Idiofon, adalah alat musik yang sumber bunyinya berasal dari bahan dasarnya. Alat musik yang tak bernada disebut. Jenis alat musik yang dipukul akan tetapi tidak bernada juga disebut dengan alat
. Foto – Talempong merupakan alat musik tradisional khas Minang. Bahannya terbuat dari kuningan, bentuknya lingkaran berdiameter antara 15–17,5 cm dan tinggi 8 cm dengan bagian bawah berlubang. Bunyi yang dihasilkan alat musik itu berasal dari kayu yang dipukulkan pada bagian bundaran di bagian atasnya. Alat musik ini mengiringi hampir setiap upacara adat Minang. Talempong juga digunakan untuk mengiringi sejumlah tarian serta sebagai musik penyambutan tamu istimewa. Alat musik pukul khas Minang ini sudah ada sejak ratusan tahun lalu di bumi Minangkabau. Awalnya, alat musik tersebut bersifat sakral dan hanya dimainkan di lingkungan istana kerajaan. Seiring berjalannya waktu alat musik itu semakin populer. Kini keberadaannya menjadi bagian tak terpisahkan dalam kehidupan masyarakat Minang. Talempong bahkan bisa dikatakan sebagai alat musik yang paling mewakili identitas sekaligus menjadi kebanggaan orang Minangkabau. Keberadaan alat musik sejenis bonang ini di tanah Minang tercatat sejak abad ke-14. Instrumen musik tradisional ini tak hanya mampu melintasi zaman, tetapi membuktikan mampu bertahan dalam perubahan zaman. Saat ini, talempong dimainkan oleh masyarakat dari beragam usia dalam warna musik yang lebih beragam di hampir seluruh Sumatra Barat. Sejarah keberadaan talempong diceritakan dalam tambo, yaitu kisah yang disampaikan turun-temurun secara oral dengan versi berbeda-beda. Salah satu versi menyebutkan bahwa talempong berasal dari Pariangan yang dipercaya merupakan tempat nenek moyang orang Minangkabau berasal. Sementara versi lainnya menyatakan, instrumen tersebut berasal dari India dan dibawa oleh keturunan Sultan Iskandar Zulkarnain. Memang tidak ada bukti arkeologi atau bukti sejarah yang secara akurat menyebutkan asal-usul alat musik itu. Meski demikian, diyakini alat musik tersebut sudah dimainkan sejak masa kedatangan Islam di Sumatera pada akhir abad ke-13. Bahkan ada dugaan, sebenarnya talempong sudah ada jauh sebelum masa itu. Konon, alat musik tradisional itu dibawa oleh para perajin perunggu dari Tonkin, di utara Vietnam, yang datang ke Minangkabau pada Zaman Perunggu, beberapa abad sebelum Masehi. Awalnya, alat musik khas Minang itu hanya bernada pentatonik. Pada jenis ini, seperangkat alat musik talempong pacik dijinjing dimainkan oleh tiga orang. Setiap orang memainkan dua buah dengan cara dijinjing menggunakan tangan kiri dalam posisi vertikal dan dipukul dengan kayu pemukul menggunakan tangan kanan. Talempong yang sebelah atas dijepit dengan ibu jari dan telunjuk, sementara yang sebelah bawah digantungkan pada jari tengah, manis, dan kelingking. Jari telunjuk berfungsi sebagai pemisah di antara talempong agar tidak bersentuhan agar nada yang dihasilkan berbunyi nyaring. Seiring waktu, dikembangkan jenis kreasi baru dengan nada diatonik sehingga bisa dikolaborasikan dengan alat musik modern. Pada jenis ini, talempong diletakkan di atas real atau rancakan. Cara memainkannya tidak jauh berbeda dengan jenis yang pertama, yaitu dipukul dengan stik pemukul. Talempong bernada diatonik dimainkan dengan sistem melodi, mengacu pada beberapa lagu yang ritmik dan bisa dikolaborasikan dan dimainkan bersama dengan alat musik lainnya. Sejarah Pada akhir kekuasaan Adhityawarman 1347 di Minangkabau, alat musik yang meliputi gong dan talempong merupakan simbol, prestise, dan kebesaran raja. Pada 1550-an, musik perunggu yang menggunakan kettle drums, yaitu alat musik idiofon terbuat dari metal, merupakan musik dari tradisi kerajaan Minangkabau. Diyakini alat musik tersebut adalah talempong. Alat musik ini konon biasa dipergunakan untuk menyertai keberangkatan raja bersama rombongan tatkala menemui orang-orang Portugis di Pantai Tiku yang terletak di Kabupaten Agam. Saat ini, Kabupaten Agam, khususnya Sungai Puar, dikenal sebagai salah satu sentra pembuatan talempong. Dulu, alat musik ini terbuat dari batu dan kayu. Kini, alat musik pukul itu terbuat dari kuningan. Meski bentuk talempong mirip dengan bonang pada gamelan Jawa, kedua alat musik tersebut dibuat dengan teknik yang berbeda. Talempong menggunakan teknik pembuatan a cire purdue, sementara bonang dibuat dengan metode tempaan. Teknik a cire purdue adalah cara pembuatan alat berbahan logam dengan lebih dulu membuat cetakannya. Cetakan tersebut dibuat dari lilin, kemudian dibalut tanah liat, dikeringkan dengan cara dijemur, lalu dibakar. Setelah pembakaran, cairan lilin dikeluarkan sehingga memunculkan rongga yang lantas diisi cairan logam. Setelah cairan logam membeku, baru dilakukan proses penggerindaan, pemolesan, dan penyeteman nada. Dulu, pembuatan alat musik itu hanya dikuasai oleh para ahli yang disebut tuo talempong. Merekalah yang menguasai rahasia pembuatan talempong, termasuk nada-nada yang ”disematkan” pada alat musik itu dengan hanya berdasarkan naluri pendengaran saja. Nada aslinya yang pentatonik terdiri atas lima atau enam nada. Apabila dibandingkan dengan nada diatonik, akan terdengar tidak pas atau seolah meleset di telinga. Talempong dengan nada pentatonik biasa dipesan pemain talempong pacik dengan teknik tradisional. Jenis tersebut ini dimainkan dengan teknik interlocking atau saling meningkahi sehingga menimbulkan pola irama tertentu. Saat ini, pesanan talempong semakin beragam, tidak hanya dalam nada pentatonik, tetapi juga dalam nada-nada diatonik. Nada yang bisa dimainkan juga tidak hanya satu oktaf, tapi bisa lebih dari itu, termasuk nada-nada seperti kres dan mol. Hal ini bisa terjadi seiring dengan makin maraknya talempong kreasi. Dengan menggabungkan talempong bersama alat musik modern, instrumen musik tradisional tersebut bisa digunakan untuk mengiringi lagu yang lebih kompleks ketimbang sekadar menghasilkan pola irama tertentu. Perkembangan talempong kreasi terjadi kira-kira pada kurun waktu tahun 1970-an. Salah satu pelopornya adalah Yusaf Rahman, seorang komponis besar asal Minang. Yusaf pertama kali mengolah tangga nada talempong pentatonik yang terbatas hanya lima not. Ia kemudian menciptakan pola tangga nada diatonik. Dengan demikian, alat musik tradisional Minang itu bisa dikolaborasikan dengan alat-alat musik lainnya. Yusaf yang mengawasi pembuatan talempong bernada diatonik tersebut yang dikerjakan oleh tuo-tuo talempong di Sungai Puar. Dia juga yang mengatur jumlahnya dalam satu meja, menyetem ketepatan nada-nadanya, serta mengatur kualitas suaranya agar sesuai konsep diatonik. Yusaf membagi talempong dalam tiga meja. Meja pertama disebut gareteh atau melodi berisi 16 talempong dalam dua oktaf nada diatonik yang bisa dimainkan dalam 1 kruis, naturel, dan 1 mol. Meja kedua disebut tingkah atau akord, terdiri atas delapan talempong. Meja ketiga disebut saua, juga terdiri atas delapan talempong. Pengaturan nada talempong ini sama dengan pengaturan nada diatonik pada piano. Inovasi yang dilakukan Yusaf ini sempat menimbulkan pro-kontra. Namun, keinginannya untuk menghasilkan talempong tak membosankan sehingga lebih bisa dinikmati membuatnya kukuh. Sejak itu, talempong bernada diatonik makin marak di Minangkabau. Belakangan, penyeteman nada talempong tak lagi hanya menggunakan feeling, tetapi menggunakan aplikasi di telepon genggam. Upacara manyadahi yang dulu umum dilakukan para tuo talempong pun sudah tidak pernah lagi dilakukan. Sebagaimana sejarahnya yang memiliki kaitan dengan istana atau kerajaan, dalam perkembangannya, penggunaan talempong dalam masyarakat Minangkabau hampir selalu dikaitkan dengan upacara adat, seperti upacara pengangkatan penghulu dan upacara perkawinan. Meski demikian, talempong juga menjadi bagian tak terpisahkan dalam kehidupan masyarakat Minangkabau. Fungsinya yang sakral pun terus bertransformasi menjadi makin lentur seiring perkembangan masyarakat. Alat musik tersebut kini tak hanya mengiringi upacara adat, tetapi juga menjadi sebuah produk hiburan. Ini dimungkinkan dengan perkembangan talempong kreasi yang membuat alat musik tradisional tersebut tampil dengan luwes bersama alat-alat musik modern. Tak hanya menjadi pengiring berbagai jenis tarian Minang atau digunakan untuk menyuguhkan lagu khas Minang dan lagu Melayu, lagu-lagu Indonesia populer atau modern serta lagu Barat pun mampu dimainkan menggunakan talempong. Dalam lima tahun terakhir juga marak talempong goyang yang menyuguhkan talempong dalam lagu-lagu campursari atau bahkan dangdut, dengan memasukkan unsur-unsur gendang sunda. Memberikan bentuk baru pada talempong dengan penggunaannya yang lebih luwes merupakan upaya agar anak muda tertarik untuk berkenalan dengan talempong. Hal ini penting agar alat musik tradisional khas Minang ini mampu bertahan. Dengan cara inilah, talempong tak hanya mampu bertahan, tapi juga berkembang seturut kemajuan zaman. Pertunjukan Keberadaan Talempong begitu penting dalam masyarakat Minangkabau. Hampir pada setiap upacara adat, alat musik ini hadir. Perkembangan talempong kreasi juga tak menghilangkan keberadaan talempong pacik yang tetap bertahan di tengah masyarakat. Biasanya talempong digunakan untuk mengiringi tarian pertunjukan atau penyambutan, seperti Tari Piring, Tari Pasambahan, Tari Payung, dan Tari Gelombang. Talempong juga digunakan sebagai musik untuk menyambut tamu istimewa. Alat musik tradisional juga ini merupakan salah satu komponen penting dalam ritual perkawinan khas Minang. Talempong mengiringi proses maarak marapulai, yaitu mengarak calon pengantin pria ke rumah calon anak daro atau pengantin perempuan. Biasanya, talempong dimainkan bersama beberapa alat musik lainnya, seperti akordeon, saluang, gandang, dan serunai. Saat ini, alat musik pukul tradisional ini juga berpadu dengan alat musik modern, seperti kibor, gitar, dan bas.
Geser Beratus hari, rancak talempong menggema di mati Minang. Persilihan sesuai dinamika publik, termasuk menjadi komoditas hiburan, menciptakan menjadikan talempong tak lagi canggung dikawinkan dengan alat nada bertamadun. Dengan kaidah itu, talempong mengotot melintasi zaman. Bunyi talempong telah berdesing di tenang Minangkabau sepanjang bilang ratus tahun. Berbunga alat musik di lingkungan istana atau imperium, perlahan perabot musik itu menjadi adegan tak terpisahkan n domestik nasib masyarakat Minang. Kedatangan celempong di bumi Minangkabau termaktub sejak abad ke-14. Beliau enggak menghilang ditelan zaman, saja membuktikan bahwa kamu ampuh melintasi transisi zaman. Saat ini, talempong dimainkan anak-anak asuh muda heterogen kehidupan kerumahtanggaan warna musik yang lebih beragam. Keberadaan talempong sangat erat dengan molekul folklore. Kisahan asal-usulnya itu umumnya bersumber dari tambo, adalah narasi nan disampaikan roboh-temurun secara oral dengan versi berbeda-selisih. Salah suatu versi menyebutkan, konon talempong berbunga mulai sejak Pariangan yang disebut-sebut sebagai asal mula nini moyang basyar Minangkabau. Tentatif varian lainnya menyatakan, talempong berasal berusul India Pantat, dibawa makanya pertalian keluarga Kaisar Iskandar Zulkarnain. Jennifer A Fraser dalam buku Gongs & Pop Songs Sounding Minangkabau in Indonesia mengistilahkan, lain ada bukti ilmu purbakala atau bukti sejarah yang secara akurat menyebutkan asal-usul talempong. Belaka, menurut Margareth J Kartomi 1998, diperkirakan talempong mutakadim ada sejak masa kerelaan Islam di Sumatera sreg akhir abad ke-13. Dalam artikel Musical Strata in Sumatera, Java and Bali, Margareth menyebutkan, para perajin belek berpunca Tonkin, utara Vietnam, datang ke Minangkabau sejumlah abad sebelum Masehi. Pada zaman yang disebut Zaman Tin itu diperkirakan talempong dan juga canang dibawa oleh nenek moyang orang Minangkabau. GESER Diperkirakan celempong sudah ada sejak masa keberadaan Islam di Sumatera sreg akhir abad ke-13. Dua Zaman Celempong Talempong awalnya hanya bernada pentatonik. Dalam perkembangannya, talempong dikembangkan menjadi diatonik sehingga boleh dikolaborasikan dengan alat musik modern. Instrumen klonengan yang berdampingan dibedakan menjadi lanang dan wadon, atau laki-laki dan perempuan. Peran masing-masing “jenis kelamin” adalah memainkan not polos atau not sangsih. Kombinasi permainan kudus dan sangsih menciptakan bilyet kebyar keras, cepat, dan berkaitan. Pada akhir pengaruh Adhityawarman 1347 di Minangkabau, kebudayaan musik yang meliputi kemung dan talempong menjadi fon, martabat, dan kemuliaan sinuhun. Sebagaimana disebutkan oleh Antony Reid 1995 dan Mahdi Bahar 2009, tahun 1550-an, musik kangsa nan memperalat kettle drums, yaitu alat musik idiofon terbuat berasal metal, nan diyakini adalah talempong, ialah musik bermula tali peranti kerajaan Minangkabau. Perangkat irama ini konon baku dipergunakan kerjakan lampir keberangkatan raja bersama rombongan tatkala menemui orang-orang Portugis di Pantai Tiku. Pantai Tiku ialah salah suatu rantau indah yang terletak di Kabupaten Agam. Saat ini, Kabupaten Agam, khususnya Wai Puar, dikenal sebagai salah satu sentra pembuatan talempong. Alat nada yang terbuat dari incaran yang terdiri dari campuran logam tembaga, timah kudus, dan seng ini dibuat dengan teknik a cire purdue, yaitu cara pembuatan alat berbahan logam dengan kian tinggal membuat maesenas atau bentuk dasarnya. Bahannya menggunakan lilin. Patron ataupun lembaga radiks tersebut lebih lanjut dibalut persil liat, dikeringkan dengan kaidah dijemur, kemudian dibakar. Sehabis pembakaran, cairan lilin dikeluarkan sehingga memunculkan rongga yang lantas diisi cair logam. Pasca- cairan besi memadat, baru dilakukan proses penggerindaan, pemolesan, dan penyeteman nada. Teknik pembuatan a cire purdue pada talempong membedakan dengan teknik pembuatan beleganjur Jawa yang menggunakan metode tempaan. Makzul Berlatih Mahasiswa di Institut Seni Indonesia Padang Tataran, Sumatera Barat, berlatih gawai nada Talempong, Selasa 13/2. Institusi pendidikan seni sebagai halnya ini menjadi riuk satu tempat yang diharapkan dapat melestarikan talempong. Kompas/Rony Ariyanto Nugroho Makzul Talempong tradisional Kelompok celempong tradisional “Bunian Mandeh” Sikabu-Kabu, Payahkumbuh, Sumatera Barat, Selasa 13/2, tengah memainkan alat musik celempong pacik. Kompas/Rony Ariyanto Nugroho Memainkan Talempong Mainkan transendental musiknya, lampau gunakan keyboard atau klik sreg gambar celempong bikin memainkan irama celempong tersebut! Sunandar Raiska Putra yang merupakan generasi ketiga pembuat celempong di negeri Sungai Puar, Kabupaten Agam, mengatakan, diperlukan setidaknya waktu selama 1-1,5 bulan dalam proses pembuatan talempong. ”Saya belajar takhlik talempong secara otodidak. Hanya melihat kiai dan kakek. Lama-lama bisa seorang. Main feeling saja,” ujarnya. Dulu, pembuatan talempong hanya dikuasai maka dari itu pakar talempong yang disebut tuo talempong. Merekalah yang menuntaskan gerendel pembuatan talempong, termasuk nada-irama yang ”disematkan” sreg talempong berdasarkan feeling mereka. Nada ikhlas celempong yang pentatonik terdiri atas lima maupun heksa- irama. Apabila dibandingkan dengan musik diatonik, akan terdengar lain pas atau seolah meleset di kuping. Dosen Sekolah tinggi Seni Indonesia ISI Padang Panjang, Andar Indra Sastra, privat disertasinya yang berjudul Konsep Batalun Kerumahtanggaan Penyajian Talempong Renjeang Anam Salabuhan Di Luhak Nan Tigo Minangkabau menyebutkan, dalam proses pembuatan talempong, dilakukan juga proses manyadahi, yakni proses yang bertujuan menjaga kestabilan bunyi talempong sesuai dengan kualitas bunyi yang diharapkan. Untuk menyadahi talempong, diperlukan sejumlah ramuan. Menyadahi celempong dimulai berpangkal beruduk untuk menerangkan diri, mendaras mantra, mencampur air-air dengan limau, mengebur sadah dengan air nan sudah dicampur, mengambil celempong buat disadahi, mengecek bunyi talempong, serta malimaui ataupun ”membasahi” talempong. Bengkel Celempong GESER Celempong dengan nada pentatonik lumrah dipesan pemain talempong pacik dengan teknik tradisional. Talempong ini dimainkan dengan teknik interlocking atau saling meningkahi sehingga menimbulkan transendental irama tertentu. Talempong pacik umumnya dimainkan tiga turunan, dengan saban memainkan dua talempong. Saat ini, titipan talempong tidak belaka dalam nada pentatonik, tetapi juga dalam nada-irama diatonik. Tidak hanya satu oktaf, malah bisa bertambah berasal itu, termasuk musik-nada begitu juga kres dan mol. Hal ini bisa terjadi seiring dengan lebih maraknya talempong kreasi, ketika talempong digabungkan dengan alat musik modern bagi menyajikan irama alias lagu yang lebih kompleks ketimbang sekadar pola irama tertentu. Transisi ini terjadi sangkil-kira pada kurun waktu perian 1970-an dengan salah satu pelopornya merupakan Yusaf Rahman yang dikenal sebagai salah satu komponis besar asal Minang. GESER Talempong ini dimainkan dengan teknik interlocking ataupun ubah meningkahi sehingga menimbulkan paradigma irama tertentu. GESER Pembuatan talempong Bengkel pembuatan celempong Anda Saiyo di Sungai Puar, Agam, Sumatera Barat, Rabu 14/2. Kali besar Puar menjadi wilayah nan dikenal sebagai wilayah pandai besi, termuat pembuatan celempong. Kompas/Rony Ariyanto Nugroho Lengser Turun-temurun Kemampuan pembuatan talempong di Sungai Puar, Agam, Sumatera Barat, diwariskan secara turun temurun dari pitarah. Kompas/Rony Ariyanto Nugroho Dalam buku Yusaf Rahman Komponis Minang yang disunting maka dari itu Nasif Basir, disebutkan bahwa Yusaf purwa bisa jadi mengolah tangga nada celempong pentatonik yang terbatas hanya lima not, lalu menciptakan kamil tangga nada diatonik. Dengan demikian, instrumen irama tradisional Minang itu dapat berekanan dengan organ-alat irama lain. Yusaf yang meluluk pembuatan talempong bernada diatonik tersebut terjamah oleh tuo-tuo talempong di Sungai Puar. Beliau juga yang mengatak jumlahnya privat satu bidang datar, mengundi presisi musik-nadanya, serta mengatak kualitas suaranya agar sesuai konsep diatonik. Yusaf membagi talempong kerumahtanggaan tiga meja. Meja purwa disebut gareteh ataupun melodi berisi 16 talempong dalam dua oktaf nada diatonik yang bisa dimainkan n domestik 1 kruis, naturel, dan 1 mol. Meja kedua disebut tingkah atau akord, terdiri atas delapan talempong. Meja ketiga disebut saua, juga terdiri atas okta- talempong. Pengaturan irama celempong ini sama dengan kontrol nada diatonik pada piano. Sejak itu, talempong bernada diatonik bertambah marak di Minangkabau. Belakangan, penyeteman musik talempong tak lagi menggunakan feeling, tetapi memperalat aplikasi di telepon genggam. Ritual manyadahi yang dulu umum dilakukan para tuo talempong pun telah tidak pernah lagi dilakukan. Turun takhta Incaran legal Bahan seremonial pembuatan talempong di Sungai Puar, Agam, Sumatera Barat, berbunga logam tembaga, belek, dan besi tua, Alat pernapasan 14/2. Sulitnya memperoleh bahan seremonial bau kencur yang berkualitas membuat perajin memintal mendaur ulang logam bekas. Kompas/Rony Ariyanto Nugroho Makzul Mengundi nada Dia Saiyo, perajin di Wai Puar, Agam, Sumatera Barat, menyetem talempong, Rabu 14/2. Penyeteman talempong, terutama celempong diatonik, kini bisa dilakukan dengan menggunakan petisi di ponsel cerdas. Kompas/Rony Ariyanto Nugroho Sebagai halnya sejarahnya yang n kepunyaan kaitan dengan istana atau kerajaan, dalam perkembangannya, penggunaan talempong dalam mahajana Minangkabau akrab selalu dikaitkan dengan upacara adat, seperti upacara pengangkatan penghulu dan upacara perkawinan. Cak agar demikian, celempong sekali lagi menjadi bagian tak terpisahkan dalam kehidupan masyarakat Minangkabau. Fungsinya yang sakral pun terus bermetamorfosis menjadi makin lentur dengan dinamika umum, termasuk rasi menjadi sebuah produk hiburan. Di titik itu, talempong tak juga segan bertemu atau dikawinkan dengan alat-alat musik beradab. Dinamika Irama Talempong Makzul Tidak sahaja menjadi pengiring berbagai jenis tarian Minang atau digunakan untuk melayani lagu individual Minang dan lagu Jawi, lagu-lagu Indonesia tenar atau beradab serta lagu Barat pun mampu dimainkan menggunakan celempong. Internal lima perian terakhir juga menara api talempong gegar nan menyuguhkan talempong internal lagu-lagu campursari atau tambahan pula dangdut, dengan memasukkan atom-unsur redap sunda. Hal ini harus diakui menjadi riuk satu daya tarik bagi anak-anak taruna agar mereka mau bertahuan dengan talempong. Febrian Maldi 18, siswa kelas III SMA yang sejak suatu tahun ini berintegrasi di Padepokan Seni Tampuniak, mengaku tertarik sparing talempong karena perpaduan musik dan cara memainkannya yang lebih menantang dibanding organ musik enggak. GESER Sajian talempong Kerubungan Sanggar Setampang Baniah menyajikan musik talempong di keseleo satu baralek acara ijab nikah di Balairung Perguruan tinggi Putra Indonesia, Padang, Sumatera Barat, Jumat 16/2. Celempong kini banyak disajikan dalam makan besar pernikahan lautan-besaran baralek gadang. Kompas/Rony Ariyanto Nugroho ”Momongan-anak remaja harus ditarik mudah-mudahan mengesir talempong. Caranya, dengan menghadirkan talempong dalam rang ataupun kemasan yang modern. Kalau bukan begitu, mereka tidak akan cak hendak,” ujar pengelola Sanggar Seni Tampuniak di Pariaman, Erwindo Tri Ermis. Terkait fenomena itu, dosen ISI Padang Pangkat yang meneliti urut-urutan musik Minang, Zainal Warhat, menyebutkan, hal itu enggak sesuatu yang harus dikhawatirkan. Hal yang jauh lebih penting ialah talempong terus berjalan alias panjang hidup. Begitulah, talempong sakti melintasi zaman. GESER Perpaduan Talempong piano dimainkan di Sanggar Shofyani, Padang, Sumatera Barat, Senin 12/2 lilin batik. Celempong piano maupun disebut “taleno” mengacu pada nada di piano, salah suatu inovasi talempong dengan alat irama modern. Kompas/Rony Ariyanto Nugroho Turun takhta Iringi tarian Alat irama celempong goyang mengiringi les tari di Sanggar Seni “Tampuniak”, Pariaman, Sumatera Barat, Sabtu 17/2. Kompas/Rony Ariyanto Nugroho Kerabat Kerja Penulis Dwi AS Setianingsih, Ismail Zakaria Juru foto Rony Ariyanto Nugroho Videografer Rony Ariyanto Nugroho, Danial AK Penyelaras Bahasa Lucia Dwi Puspita Ekstrak Infografik Mulia Arsiyanto Putra Desainer dan Pengembang Elga Yuda Pranata, Rafni Amanda Produser Prasetyo Eko Prihananto, Haryo Damardono Demen dengan tulisan yang Anda baca? Nikmati tulisan lainnya kerumahtanggaan rubrik Tutur Visual di bawah ini.
talempong yang bernada rendah disebut